Selasa, 22 Januari 2013

FILM 7 HATI -7 CINTA -7 WANITA







7 Hati 7 Cinta 7 Wanita adalah film drama Indonesia yang dirilis pada 2010 dengan disutradarai oleh Robby Ertanto yang dibintangi oleh Marcella Zalianty dan Olga Lydia.

Film ini menceritakan kehidupan 7 orang wanita dengan berbagai latar belakang, masalah kehidupan dan percintaannya. Mulai dari hamil di luar nikah, pekerjaan sebagai pelacur hingga menderita kelainan seksual.


„“== Sinopsis == Kartini (Jajang C Noer) adalah dokter kandungan berusia 45 tahun. Masa lalunya yang kelam membuat ia terjebak di tengah-tengah masalah kehidupan dan percintaan 6 orang pasien wanitanya yang juga kelam dan tidak bahagia. Namun kebahagiaan hidup harus diperjuangkan. Walau tidak semua wanita mampu memperjuangkannya dan kembali menjadi korban








 

FILM NENEK GAYUNG

Desember 2011. Sosok Nenek misterius ini tiba-tiba heboh dibicarakan semua orang. Nenek ini dipanggil sebagai Nenek Gayung, karena ia selalu membawa gayung dan tikar pandan, untuk memandikan korbannya.


Banyak yang percaya, bila bertemu dengan Nenek Gayung, jangan pernah mengajaknya bicara. Konon, telah banyak korban yang menemui ajalnya setelah bertemu dan bicara dengan Nenek Gayung ini.








Zaky Zimah Emang lucu banget....

FILM KAKEK CANGKUL





Poster film
Dikisahkan, Kakek Cangkul itu adalah suami dari Nenek Gayung. Ketika meninggal, jasad Kakek Cangkul tidak sempat dikuburkan dengan layak. Adalah Duta (Zaky Zimah), Coki (Rizky Mocil), Danu (Zidni Adam) dan dua gadis cantik Thalia (Herfiza Novianti) dan Miki (Febriyane Ferdzilla) yang harus berhadapan dengan Kakek Cangkul yang marah menuntut kuburnya.











di jamin dech nonton ini film bukannya takut malah ngakak.....

Senin, 21 Januari 2013

CERITA RAKYAT { Ken Arok Dan Ken Dedes }

 





Ken Arok atau sering pula ditulis Ken Angrok (lahir:1182 - wafat: 1227/1247), adalah pendiri Kerajaan Tumapel (yang kemudian terkenal dengan nama Singhasari). Ia memerintah sebagai raja pertama bergelar Rajasa pada tahun 1222 - 1227 (atau 1247).

Asal usul ken arok
Menurut naskah Pararaton, Ken Arok adalah putra Dewa Brahma hasil berselingkuh dengan seorang wanita desa Pangkur bernama Ken Ndok. Oleh ibunya, bayi Ken Arok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.
Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang lihai mencuri & gemar berjudi, sehingga membebani Lembong dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya. Ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi pula yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan.
Ken Arok tidak betah hidup menjadi anak angkat Genukbuntu, istri tua Bango Samparan. Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng. Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.
Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya.

Merebut Tumapel

Tumapel merupakan salah satu daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Yang menjadi akuwu (setara camat zaman sekarang) Tumapel saat itu bernama Tunggul Ametung. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung.
Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik. Apalagi Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah Jawa. Hal itu semakin membuat Ken Arok berhasrat untuk merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.
Ken Arok membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung yang terkenal sakti. Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang (sekarang Lumbang, Pasuruan, yaitu seorang ahli pembuat pusaka ampuh.
Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun. Ken Arok tidak sabar. Lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan. Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke dada Mpu Gandring sampai tewas. Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris itu nantinya akan membunuh 7 orang, termasuk Ken Arok sendiri.
Kembali ke Tumapel, Ken Arok menjalankan rencana liciknya. Mula-mula ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo, rekan sesama pengawal. Kebo Hijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya kepada semua orang yang ia temui, sehingga semua orang mengira bahwa keris itu adalah milik Kebo Hijo. Dengan demikian, siasat Ken Arok berhasil.
Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu di atas ranjang. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.
Pagi harinya, Kebo Hijo dihukum mati karena kerisnya ditemukan menancap pada mayat Tunggul Ametung. Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai akuwu baru di Tumapel dan menikahi Ken Dedes. Tidak seorang pun yang berani menentang kepustusan itu. Ken Dedes sendiri saat itu sedang mengandung anak Tunggul Ametung.

Mendirikan Kerajaan Tumapel

Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para brahmana.

Para brahmana itu memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok yang kebetulan sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri.

Setelah mendapat dukungan mereka, Ken Arok pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri.

Sebagai raja pertama ia bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang
Amurwabhumi
Kertajaya (dalam Pararaton disebut Dhandhang Gendis) tidak takut menghadapi pemberontakan Tumapel. Ia mengaku hanya dapat dikalahkan oleh Bhatara Siwa. Mendengar sesumbar itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Siwa dan siap memerangi Kertajaya.
Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi di dekat desa Ganter. Pihak Kadiri kalah.

Kertajaya diberitakan naik ke alam dewa, yang mungkin merupakan bahasa kiasan untuk mati.

Keturunan Ken Arok

Ken Dedes telah melahirkan empat orang anak Ken Arok, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Ken Arok juga memiliki selir bernama Ken Umang, yang telah memberinya empat orang anak pula, yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wergola dan Dewi Rambi.
Selain itu, Ken Dedes juga memiliki putra dari Tunggul Ametung yang bernama Anusapati.

Kematian Ken Arok

Nama Ken Arok ternyata tidak terdapat dalam Nagarakretagama (1365). Naskah tersebut hanya memberitakan bahwa pendiri Kerajaan Tumapel merupakan putra Bhatara Girinatha yang lahir tanpa ibu pada tahun 1182.
Pada tahun 1222 Sang Girinathaputra mengalahkan Kertajaya raja Kadiri. Ia kemudian menjadi raja pertama di Tumapel bergelar Sri Ranggah Rajasa. Ibu kota kerajaannya disebut Kutaraja (pada tahun 1254 diganti menjadi Singasari oleh Wisnuwardhana).
Sri Ranggah Rajasa meninggal dunia pada tahun 1227 (selisih 20 tahun dibandingkan berita dalam Pararaton. Untuk memuliakan arwahnya didirikan candi di Kagenengan, di mana ia dipuja sebagai Siwa, dan di Usana, di mana ia dipuja sebagai Buddha.
Kematian Sang Rajasa dalam Nagarakretagama terkesan wajar tanpa pembunuhan. Hal ini dapat dimaklumi karena naskah tersebut merupakan sastra pujian untuk keluarga besar Hayam Wuruk, sehingga peristiwa pembunuhan terhadap leluhur raja-raja Majapahit dianggap aib.
Adanya peristiwa pembunuhan terhadap Sang Rajasa dalam Pararaton diperkuat oleh prasasti Mula Malurung (1255). Disebutkan dalam prasasti itu, nama pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa yang meninggal di atas takhta kencana. Berita dalam prasasti ini menunjukkan kalau kematian Sang Rajasa memang tidak sewajarnya.

Keistimewaaan Ken Arok

Nama Rajasa selain dijumpai dalam kedua naskah sastra di atas, juga dijumpai dalam prasasti Balawi yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit tahun 1305. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota Wangsa Rajasa.Raden Wijaya   adalah keturunan Ken Arok.
Nama Ken Arok memang hanya dijumpai dalam Pararaton, sehingga diduga kuat merupakan ciptaan si pengarang sebagai nama asli Rajasa. Arok diduga berasal dari kata rok yang artinya "berkelahi". Tokoh Ken Arok memang dikisahkan nakal dan gemar berkelahi.
Pengarang Pararaton sengaja menciptakan tokoh Ken Arok sebagai masa muda Sang Rajasa dengan penuh keistimewaan. Kasus yang sama terjadi pula pada Babad Tanah Jawi di mana leluhur raja-raja Kesultanan Mataram dikisahkan sebagai manusia-manusia pilihan yang penuh dengan keistimewaan. Ken Arok sendiri diberitakan sebagai putra Brahma, titisan Wisnu, serta penjelmaan Siwa, sehingga seolah-olah kekuatan Trimurti berkumpul dalam dirinya.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah Ken Arok, dapat ditarik kesimpulan kalau pendiri Kerajaan Tumapel hanya seorang rakyat jelata, namun memiliki keberanian dan kecerdasan di atas rata-rata sehingga dapat mengantarkan dirinya sebagai pembangun suatu dinasti baru yang menggantikan dominasi keturunan Airlangga dalam memerintah pulau Jawa.

Ken Dedes

Ken Dedes adalah nama permaisuri dari Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel (Singhasari). Ia kemudian dianggap sebagai leluhur raja-raja yang berkuasa di Jawa, nenek moyang wangsa Rajasa, trah yang berkuasa di Singhasari dan Majapahit. Tradisi lokal menyebutkan ia sebagai perempuan yang memiliki kecantikan luar biasa, perwujudan kecantikan yang sempurna.

Perkawinan Pertama

Menurut Pararaton, Ken Dedes adalah putri dari Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha dari desa Panawijen.

Pada suatu hari Tunggul Ametung akuwu Tumapel singgah di rumahnya. Tunggul Ametung jatuh hati padanya dan segera mempersunting gadis itu. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu. Namun Tunggul Ametung tidak kuasa menahan diri.

Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke tumapel untuk dinikahi.
Ketika Mpu Purwa pulang ke rumah, ia marah mendapati putrinya telah diculik. Ia pun mengutuk barangsiapa yang telah menculik putrinya, maka ia akan mati akibat kecantikan Ken Dedes.

Perkawinan Kedua

Tunggul Ametung memiliki pengawal kepercayaan bernama Ken Arok.

Pada suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan Baboji. Ketika turun dari kereta, kain Ken Dedes tersingkap sehingga auratnya yang bersinar terlihat oleh Ken Arok.
Ken Arok menyampaikan hal itu kepada gurunya, yang bernama Lohgawe, seorang pendeta dari India. Menurut Lohgawe, wanita dengan ciri-ciri seperti itu disebut sebagai wanita nareswari yang diramalkan akan menurunkan raja-raja. Mendengar ramalan tersebut, Ken Arok semakin berhasrat untuk menyingkirkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes.
Maka, dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung sewaktu tidur.

Yang dijadikan kambing hitam adalah rekan kerjanya, sesama pengawal bernama Kebo Hijo. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes, bahkan menjadi akuwu baru di Tumapel.

Ken Dedes sendiri saat itu sedang dalam keadaan mengandung anak Tunggul Ametung.

Keturunan Ken Dedes

Lebih lanjut Pararaton menceritakan keberhasilan Ken Arok menggulingkan Kertajaya raja Kadiri tahun 1222, dan memerdekakan Tumapel menjadi sebuah kerajaan baru.

Dari perkawinannya dengan Ken Arok, lahir beberapa orang anak yaitu, Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Sedangkan dari perkawinan pertama dengan Tunggul Ametung, Ken Dedes dikaruniai seorang putra bernama Anusapati.
Seiring berjalannya waktu, Anusapati merasa dianaktirikan oleh Ken Arok. Setelah mendesak ibunya, akhirnya ia tahu kalau dirinya bukan anak kandung Ken Arok. Bahkan, Anusapati juga diberi tahu kalau ayah kandungnya telah mati dibunuh Ken Arok.
Maka, dengan menggunakan tangan pembantunya, Anusapati membalas dendam dengan membunuh Ken Arok pada tahun 1247.

Keistimewaan Ken Dedes

Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam naskah Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga kebenarannya cukup diragukan.


Namanya sama sekali tidak terdapat dalam Nagarakretagama atau prasasti apa pun. Mungkin pengarang Pararaton ingin menciptakan sosok leluhur Majapahit yang istimewa, yaitu seorang wanita yang bersinar auratnya.
Keistimewaan merupakan syarat mutlak yang didambakan masyarakat Jawa dalam diri seorang pemimpin atau leluhurnya. Masyarakat Jawa percaya kalau raja adalah pilihan Tuhan.

Ken Dedes sendiri merupakan leluhur raja-raja Majapahit versi Pararaton. Maka, ia pun dikisahkan sejak awal sudah memiliki tanda-tanda sebagai wanita nareswari. Selain itu dikatakan pula kalau ia sebagai seorang penganut Buddha yang telah menguasai ilmu karma amamadang, atau cara untuk lepas dari samsara.
Dalam kisah kematian Ken Arok dapat ditarik kesimpulan kalau Ken Dedes merupakan saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu.

Hal ini membuktikan kalau antara Ken Dedes dan Ken Arok sesungguhnya saling mencintai, sehingga ia pun mendukung rencana pembunuhan Tunggul Ametung. Perlu diingat pula kalau perkawinan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.

KISAH CINTA KEN AROK DAN KEN DEDES
Ken Endog membuang bayi yang baru saja dilahirkannya. Bayi itu dibuang dikuburan tua dengan menulis pesan melalui secarik kertas untuk orang yang menemukan anaknya agar merawat bayinya dan memberi nama anaknya Ken Arok.
Bayi tersebut ditemukan secara kebetulan oleh seorang pencuri yang berusaha melarikan diri dari kejaran masyarakat dengan bersembunyi dikuburan tua itu, orang itu bernama Lembong. Bayi itu dibawa pulang oleh Lembong dan dirawat bersama istrinya yang kebetulan belum mempunyai anak.
Ken Arok kecil mulai tumbuh besar dengan mengikuti jejak pekerjaan Lembong sebagai pencari dan pencopet meskipun kebiasaan itu dilarang oleh istri Lembong, hingga akhirnya pada suatu ketika Lembong dan Ken Arok kecil tertangkap basah ketika sedang mencuri sehingga Lembong dihajar beramai-ramai oleh masyarakat dan Ken Arok kecil yang sedang bersembunyi ketakutan juga dipergoki oleh masyarakat tapi Ken Arok secara tiba-tiba ditolong oleh Seekor Ular Raksasa.
Ken Arok yang masih membawa tas hasil curian yang berisi perhiasan tergeletak tak sadar didepan rumah Bangau Samparan. Bangau Samparan menganggap Ken Arok kecil membawa keberuntungan baginya hingga dia mengajak Ken Arok kecil untuk membantunya berjudi, Ken Arok yang kebingungan karena tidak tahu caranya berjudi tiba-tiba ditolong kembali oleh Ular Raksasa hingga Ken Arok kecil dapat membantu memenangkan Bangau Samparan dalam berjudi.
Tapi kedekatan Bangau Samparan kepada Ken Arok kecil diprotes oleh Lanang, anak Bangau Samparan sendiri. Hal ini diketahui oleh Ken Arok kecil, karena tidak ingin menyakiti hati Lanang maka Ken Arok kecil kabur dari rumah Bangau Samparan.
Ken Arok tumbuh dewasa dengan menjadi perampok bersama kawanannya, sasaran mereka adalah truk pengangkut beras atau pun barang yang lain milik para lintah darat dan tengkulak yang merugikan masyarakat. Salah satu korban dari ulah Ken Arok adalah Tunggul Ametung yang akhirnya memerintahkan Bapiang, pengawal pribadinya untuk menumpas gerombolan perampok yang berani mengganggu bisnisnya.
Ken Arok dan kawanannya dijebak oleh Bapiang dibantu oleh Kebo Ijo beserta anak buahnya hingga hancur bercerai berai. Bapiang sendiri tewas ketika ingin membunuh Ken Arok. Ular Raksasalah yang membunuh Bapiang. Ken Arok dibawa oleh Ular Raksasa tersebar bertemu dnegan Loh Gawe. Pertemuan itu membuat Ken Arok diangkat menjadi murid oleh Loh Gawe. Ken Arok diajarkan tentang tata krama, ilmu ke tata negaraan, agama dan ilmu bela diri.
Tanggul Ametung yang kehilangan pengawal pribadinya membuat sayembara untuk mencari penggantinya. Loh Gawe memerintahkan Ken Arok untuk mengikuti sayembara tersebut dan Ken Arok berhasil memenangkannya.
Ken Arok menjadi pengawal pribadi Tanggul Ametung dan istrinya Ken Dedes hingga akhirnya Ken Arok menjadi dekat dengan Ken Dedes setelah menolong Ken Dedes dari gangguan Sawung Agul. Dari situlah Ken Arok mengetahui tentang keadaan Ken Dedes serta penderitaan menjadi istri Tanggul Ametung.
Karena itulah Ken Arok merencanakan membunuh Tanggul Ametung dengan memesan keris kepada Empu Gandring, tapi setelah menerima keris itu Ken Arok membunuh Empu Gandring dengan keris buatannya itu hingga Empu Gandring mengutuk Ken Arok bahwa keris itu akan membunuh 7 korban lagi.
Untuk memuluskan rencananya, Ken Arok memberikan keris itu pada Kebo Ijo, karena tidak mengetahui niat jahat Ken Arok maka Kebo Ijo menerima dengan senang hati dan memamerkan pada semua orang yang ditemuinya. Pada malam hari Ken Arok mengambil keris itu dan melanjutkan rencananya mendatangi rumah Tanggul Ametung dan dengan bantuan Ken Dedes, Ken Arok berhasil membunuh Tanggul Ametung ketika tidur.
Setelah Tanggul Ametung mati dan Ken Arok pergi dari ruang tidurnya, Ken Dedes berteriak membangunkan seluruh penghuni rumah. Dengan liciknya Ken Arok akhirnya memfitnah Kebo Ijo akan kematian Tanggul Ametung dan membunuh Kebo Ijo dengan keris itu juga. Rencana Ken Arok dan Ken Dedes berhasil dan mereka pun menikah serta mewarisi kekayaan dari Tanggul Ametung.

DAFTAR PUSTAKA

  • R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
  • R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Pogadaev, V. A. The Bloody Throne of Java. Zhivaya istoriya Vostoka (The Live History of Orient). Мoscow: Znanie, 1998, p.172-179.

 
 
 

CERITA RAKYAT { Jaka tarub }


Sebuah gambar perumpamaan cerita Jaka Tarub


Jaka Tarub
adalah salah satu cerita rakyat dari Jawa Tengah yang mengisahkan tentang kehidupan Ki Jaka Tarub yang setelah tua bergelar Ki Ageng Tarub, tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Kesultanan Mataram.
dari pihak putrinya, yaitu yang bernama Retno Nawangsih.

 

 Alur cerita

Suatu hari Jaka Tarub berangkat berburu di kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi.


Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Ketika 7 bidadari selesai mandi, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang.


Jaka Tarub muncul datang menolong. Bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumahnya. Keduanya akhirnya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Dewi Nawangsih.


Selama hidup berumah tangga, Nawang wulan selalu memakai kesaktiannya. Sebutir beras bisa dimasaknya menjadi sebakul nasi. Suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan Nawang wulan supaya tidak membuka tutup penanak nasi. Akibatnya kesaktian Nawang wulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.


Maka, persediaan beras menjadi cepat habis. Ketika beras tinggal sedikit, Nawang wulan menemukan selendang pusakanya tersembunyi di dalam lumbung. Nawang wulan pun marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut.


Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawang wulan sudah bulat. Hanya demi bayi Nawangsih ia rela turun ke bumi untuk menyusui saja.

Pernikahan Nawangsih

Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.


Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub

.
Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.
Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.


Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Analisis Kisah Jaka Tarub

Babad Tanah Jawi adalah naskah sejarah Kesultana Mataram. Pemberitaan tentang Panembahan Senapati dan para penggantinya memang mendekati fakta sejarah.

Akan tetapi kisah-kisah sebelum Panembahan Senapati cenderung bersifat khayal, terutama seputar Kerajaan Majapahit.
Ada yang berpendapat, Kesultanan Mataram didirikan oleh keluarga petani, bukan keluarga bangsawan.

Oleh karena itu, demi mendapat legitimasi dan pengakuan dari rakyat Jawa, diciptakanlah tokoh-tokoh mitos yang serba istimewa sebagai leluhur raja-raja Mataram.
Dalam hal ini, tokoh Nawangsih yang dinikahi Bondan Kejawan disebut sebagai wanita istimewa.

Nawangsih merupakan anak campuran antara manusia dan bidadari.

Kisah ini mengingatkan pada tokoh Ken Arok dalam Pararaton. Pihak Majapahit juga ingin menunjukkan bahwa leluhur mereka, yaitu Ken Arok adalah manusia istimewa setengah dewa.

 




CERITA RAKYAT { Joko Seger Dan Roro Anteng }

 


Gunung Brahma/Bromo merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di provinsi Jawa Timur.Tingginya 2.392 Meter.Di Gunung Bromo,terdapat sebuah daerah yang bernama Tengger.Disana dilakukan sebuah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Tengger dengan melakukan membuang sesajen kedalam kawah Gunung Bromo sebagai persembahan kepada Jaya Kusuma,anak dari Joko Seger dan Roro Anteng.Nama Upacara itu adalah Kasadha.Upacara ini dilakukan tiap tahun pada bulan Jawa Asyuro.Apakah yang dilakukan oleh Joko Seger sehingga Jaya Kusuma mau mengorbankan dirinya sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo?Ikuti kisah Joko Seger dan Roro Anteng berikut ini
Alkisah,


terdapat seseorang raja Majapahit yang meninggalkan negerinya bersama permaisurinya dan beberapa pengikutnya karena kalah melawan putranya sendiri.Mereka pergi ke lereng Gunung Bromo dan membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal mereka.Pada suatu hari,permaisuri melahirkan anak keduanya.Mantan Raja Majapahit yang gelisah menunggu istrinya melahirkan anaknya di luar rumah.Pada tengah malam,akhirnya anaknya berhasil dilahirkan.Anak yang dilahirkan itu perempuan.Sang Raja lalu melihat anaknya “Dinda,anak kita perempuan”.Tetapi,terdapat keanehan pada bayi itu karena bayi itu tidak menangis seperti bayi pada umumnya “Benarkah Adinda melahirkan,mengapa tidak ada suara tangisan bayi?”pikir sang permaisuri.




“Betul Adinda,anak kita telah lahir.Lihat,ia terlihat tenang,tidak menangis.Dia terlahir dengan normal dan sehat.Mukanya terlihat tampak bersinar.Karena ia terlihat tenang dan diam,maka aku akan menamakannya Roro Anteng”ucap Sang mantan Raja sembari
menunjukan bayinya kepada istrinya.




Tidak jauh dari tempat itu,terdapat sebuah rumah sederhana yang ditinggali oleh sepasang suami istri.Sang Suami merupakan seorang Brahmana.Pada saat yang bersamaan,sang istri Brahmana melahirkan seorang bayi laki-laki.Bayi itu menangis dengan suara yang amat keras.Karena bayi itu menangis dengan suara yang amat keras,maka bayi itu dinamakan Joko Seger yang artinya laki-laki berbadan segar “Istriku,anak kita menangis dengan suara yang amat keras.Karena itu aku akan menamakan bayi ini Joko Seger”.





Tahun telah berlalu.Kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa.Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik,sedangkan Joko Seger tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan perkasa.Karena kecantikkan Roro Anteng,banyak pemuda yang datang untuk meminangnya.Tapi,tak satupun lamaran yang diterima olehnya karena dia telah menjalin kasih dengan Joko Seger dan ia berjanji tidak akan mau menyukai orang lain karena kesetiaan cintanya kepada Joko Seger.




Berita tentang kecantikan Roro Anteng sampai kepada seorang raksasa yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo yang bernama Kyai Bima.Mendengar kabar itu,ia langsung datang ke rumah tempat tinggal Roro Anteng untuk meminangnya “Hai Roro Anteng,apakah kamu mau menerima pinanganku?”.Roro Anteng dan keluarganya kebingungan.Bila tidak diterimanya,nanti dusun mereka akan dihancurkan olehnya beserta isinya.Joko Seger tidak bisa tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak isa menandingi kesaktian Kyai Bima.Roro Anteng pun berpikir keras “Kalau aku tidak menerimanya,nanti Bima akan marah”.”Roro Anteng,jawablah pertanyaanku Roro!”ucap Kyai Bima.Akhirnya,Roro Anteng mendapat ide.




Ia menolak pinangan Kyai Bima dengan cara yang halus,yaitu mengajukan satu persyaratan kepada Kyai Bima.Syarat yang diajukannya itu ia pikir tidak akan bisa dilakukan oleh Kyai Bima. “Hai Bima,aku menerima pinanganmu dan menjadi istrimu!”.”Ha Ha Ha….Baiklah”ucap Kyai Bima dengan suaranya yang menggelegar.”Hai Bima,aku menerimanya,Tetapi aku mengajukan syarat kepadamu!”.”Apa syaratnya?”tanya Kyai Bima dengan suara yang keras.Roro Anteng yang mendengar suaranya menjadi gugup,tetapi ia berusaha agar tampak tenang.Roro Anteng kemudian berkata “Aku mau engkau untuk membuatkanku danau diatas Gunung Bromo itu,tetapi hanya dalam waktu semalam! "perintah Roro Anteng sambil menunjukan tempat yang di maksud.




Tidak jauh dari tempat itu,terdapat sebuah rumah sederhana yang ditinggali oleh sepasang suami istri.Sang Suami merupakan seorang Brahmana.Pada saat yang bersamaan,sang istri Brahmana melahirkan seorang bayi laki-laki.Bayi itu menangis dengan suara yang amat keras.Karena bayi itu menangis dengan suara yang amat keras,maka bayi itu dinamakan Joko Seger yang artinya laki-laki berbadan segar “Istriku,anak kita menangis dengan suara yang amat keras.Karena itu aku akan menamakan bayi ini Joko Seger”.




Tahun telah berlalu.Kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa.Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik,sedangkan Joko Seger tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan perkasa.Karena kecantikkan Roro Anteng,banyak pemuda yang datang untuk meminangnya.Tapi,tak satupun lamaran yang diterima olehnya karena dia telah menjalin kasih dengan Joko Seger dan ia berjanji tidak akan mau menyukai orang lain karena kesetiaan cintanya kepada Joko Seger.




Berita tentang kecantikan Roro Anteng sampai kepada seorang raksasa yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo yang bernama Kyai Bima.Mendengar kabar itu,ia langsung datang ke rumah tempat tinggal Roro Anteng untuk meminangnya “Hai Roro Anteng,apakah kamu mau menerima pinanganku?”.Roro Anteng dan keluarganya kebingungan.Bila tidak diterimanya,nanti dusun mereka akan dihancurkan olehnya beserta isinya.Joko Seger tidak bisa tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak isa menandingi kesaktian Kyai Bima.Roro Anteng pun berpikir keras “Kalau aku tidak menerimanya,nanti Bima akan marah”.”Roro Anteng,jawablah pertanyaanku Roro!”ucap Kyai Bima.Akhirnya,Roro Anteng mendapat ide.





Ia menolak pinangan Kyai Bima dengan cara yang halus,yaitu mengajukan satu persyaratan kepada Kyai Bima.Syarat yang diajukannya itu ia pikir tidak akan bisa dilakukan oleh Kyai Bima. “Hai Bima,aku menerima pinanganmu dan menjadi istrimu!”.”Ha Ha Ha….Baiklah”ucap Kyai Bima dengan suaranya yang menggelegar.”Hai Bima,aku menerimanya,Tetapi aku mengajukan syarat kepadamu!”.”Apa syaratnya?”tanya Kyai Bima dengan suara yang keras.Roro Anteng yang mendengar suaranya menjadi gugup,tetapi ia berusaha agar tampak tenang.Roro Anteng kemudian berkata “Aku mau engkau untuk membuatkanku danau diatas Gunung Bromo itu,tetapi hanya dalam waktu semalam!”perintah Roro Anteng sambil menunjukkan tempat yang dimaksud.




“Ha Ha Ha…kalau itu maumu,aku akan melakukannya,itu sangat mudah bagiku!”jawab Kyai Bima dengan nada angkuh.”Tetapi,Bima,kau harus bisa menyelesaikannya sampai waktu ayam berkokok!”ucap Roro Anteng.Kyai Bima lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Roro Anteng tadi untuk membuat danau di tempat itu.Dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang besar,Kyai Bima dengan percaya diri dan mengumpulkan segenap kekuatannya mengeruk tanah.Hasil kerukan itu akan diisi air agar menjadi danau.Hanya beberapa kali kerukan,Kyai Bima berhasil membuat lubang besar.Kyai Bima mengeruk tanah tanpa mengenal lelah.Roro Anteng pun menjadi cemas melihat Kyai Bima sudah membuat lubang yang besar “Aduh,bagaimana ini,raksasa itu benar-benar sakti?Pasti nanti pagi danau itu sudah selesai.Bagaimana caranya agar aku dapat mengalahkannya?”.






Setelah lama berpikir,akhirnya ia menemukan ide.Ia membangunkan para penduduk desa,termasuk tetangga dan keluarganya.Lalu Roro Anteng menyuruh kaum perempuan untuk menumbuk padi di lesung,sedangkan kaum Laki-Laki ia suruh untuk membakar jerami disebelah timur agar kelihatan fajar telah terbit “Wahai saudara-saudaraku,aku meminta kalian agar menciptakan suasana pagi.Hai kaum perempuan,aku perintahkan kau untuk menumbuk padi.Dan kau kaum laki-laki,aku perintahkan engkau untuk mengumpulkan jerami dan dibakar disebelah Timur agar terlihat seperti matahari terbit”.”Baiklah Roro Anteng,kami akan melakukannya”.Lalu,kaum laki-laki dan perempuan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Roro Anteng.





Cahaya kemerah-merahan segera muncul dari arah Timur,disusul dengan suara lesung yang bersahutan.Ayam pun terbangun dan berkokok.Kyai Bima yang menyangka pagi sudah datang pun kesal karena pekerjaannya tidak selesai dan tidak bisa menikahi Roro Anteng “Sial!pagi sudah tiba.Sementara pekerjaanku tidak selesai.Aku tidak bisa menikahi Roro Anteng”seru Kyai Bima dengan kesal.Kyai Bima lalu meninggalkan tempat itu.Tempurung yang dipegangnya dilemparkan dan bertelungkup di tanah.Tempurung itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.Jalan yang dilalui Kyai Bima berubah menjadi sebuah sungai yang sampai sekarang dapat dilihat di hutan pasir Gunung Batok.Sedangkan danau yang belum selesai dibuat oleh Kyai Bima berubah menjadi kawah yang sampai sekarang masih bisa dilihat di kawasan Gunung Bromo.




Roro Anteng dan Joko Seger menjadi senang.Tak berapa lama kemudian,mereka berdua menikah dan tetap tinggal di lereng Gunung Bromo.Mereka kemudian membuka desa baru.Desa itu kemudian mereka namakan dengan nama Tengger.Nama ini merupakan gabungan dari nama mereka berdua,Roro An(teng) dan Joko Se(ger).Mereka pun hidup bahagia.





Setelah bertahun-tahun menikah,mereka belum juga dikaruniai anak.Karena itu,terjadi keresahan di hati mereka berdua “Dinda,sebenarnya sudah bertahun-tahun kita menjadi suami istri,tetapi mengapa kita belum dikaruniai anak?Padahal kita sudah mencoba berbagai jenis obat”ucap Joko Seger.”Sabarlah Kanda,mungkin nanti kita akan dikaruniai anak.Janganlah cepat berputus asa.Serahkan saja semuanya kepada dewa”ucap istrinya untuk menenangkan hati suaminya.Joko Seger pun bersumpah “Aku bersumpah,bila kita dikaruniai 25 orang anak,salahsatu dari anak kita akan ku persembahkan sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo!”.Setelah suaminya berucap seperti itu,tiba-tiba muncul api dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo.Itu pertanda bahwa doa mereka didengar oleh Dewa.Mereka pun senang dan berterima kasih “Terima Kasih Dewa,terima kasih karena engkau telah mendengarkan permintaan kami.Kami akan menepati janji kami”.





Tak berapa lama kemudian setelah itu,Roro Anteng diketahui mengandung.Mereka bertambah senang dan bahagia karena saat yang ditunggu-tunggu tiba.Sembilan bulan kemudian,Roro Anteng melahirkan seorang bayi kembar laki-laki.Ada yang kembar dua,tiga,hingga anak mereka menjadi 25.Kebahagiaan mereka bertambah.Setelah itu,Roro Anteng tidak melahirkan lagi.Mereka mengasuh dan mendidik ke 25 anak mereka dengan ikhlas.Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi dewasa.Nama anak yang paling bungsu adalah Jaya Kusuma.Karena terlena dalam kebahagiaan,Joko Seger menjadi lupa akan janjinya untuk mempersembahkan salahsatu anaknya untuk menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo.




Pada suatu malam,ketika Joko Seger tidur,Dewa menegurnya agar menepati janjinya untuk mempersembahkan salahsatu anaknya untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo melalui mimpi “Wahai Joko Seger tepatilah janjimu untuk mempersembahkan salahsatu anakmu untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo!”.Joko Seger pun tersentak kaget dan terbangun.”Aduh,bagaimana ini?Siapa diantara putra putriku yang harus aku persembahkan?Aku sangat menyayangi mereka semua”’Joko Seger yang masih dalam keadaan gelisah pun melanjutkan tidurnya.





Pada Keesokan harinya,Saat pagi hari,Joko Seger bangun dari tidurnya.Joko Seger pun mulai gelisah karena ia belum menepati janjinya.Makin hari ia semakin gelisah karena belum menepati janjinya.Akhirnya ia ingin menceritakan semuanya kepada anak-anaknya “Apa aku harus membicarakan ini kepada anak-anakku?mudah-mudahan saja ada salahsatu dari mereka yang mau menjadi persembahan”.






Joko Seger dan isrinya kemudian mengumpulkan anak-anaknya dalam sebuah pertemuan keluarga.Ia menjelaskan janjinya yang pernah ia ucapkan “Anak-anakku,Ayah sebenarnya mempunyai sebuah janji yang melibatkan kalian”.”Janji apakah itu ayahku?”tanya anak-anaknya.”Sebelum kalian lahir,Ayah dan Ibumu ini sudah lama tidak dikaruniai anak.Padahal Ayah dan Ibumu ini sudah banyak berdoa dan berusaha.Karena Ayah dan Ibumu ini tidak juga dikaruniai anak,maka Ayah mengucapkan sebuah janji yaitu bila Anak ayah ada 25,salah satu dari mereka harus ada yang dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo”jawab Joko Seger sambil menjelaskan.”Lalu,apakah yang melibatkan kami Ayahku?”tanya anak-anaknya.”Apakah salahsatu dari kalian ada yang mau menjadi persembahan di kawah Gunung Bromo?”tanya Sang Ayah.”Ayahandaku,apakah ayahanda tega mengorbankan anak ayahanda sendiri,mengapa ayah berjanji seperti itu?Apakah ayahanda tidak sayang dengan kami?”tanya salahsatu anaknya.





“Bukan begitu anakku,aku hanya ingin dikaruniai anak,sehingga ayahmu ini berjanji demi dikaruniai anak.Ayah itu sangat sayang dengan kalian semua,jadi ayah tidak tega untuk mempersembahkan salahsatu dari kamu semua menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo”ucap ayahnya kepada anak-anaknya.”Ampun Ayahanda,Ananda Pokoknya aku tidak mau menjadi persembahan di Gunung Bromo.Kami tidak ingin mati muda Ayahanda”ucap si Sulung.”Iya,kami tidak mau mati dibakar oleh panasnya kawah Gunung Bromo!”ucap putra-putrinya,kecuali si Jaya Kusuma.”Ayahanda,Ibunda,aku mau dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo ayahanda,demi ketenangan ayahanda.Ananda sangat menginginkan bahwa Ayahanda itu bahagia.Biarlah Ananda yang dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo”ucap si bungsu,Jaya Kusuma.Mendengar perkataan Kusuma,semuanya menjadi sedih.”Jaya Kusuma anakku,mengapa kamu berani untuk kami persembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo?Sedangkan kakak-kakakmu tak berani melakukannya”ucap Joko Seger.”Ananda akan melakukan apa saja,termasuk dikorbankan,demi keselamatan penduduk Tengger dan Ayahanda,Ibunda,serta kakak-kakakku.Sekarang,ijinkanlah aku pergi ke kawah Gunung Bromo”ucap Jaya Kusuma.






Jaya Kesuma lalu berpamitan kepada kedua orangtuanya “Ayahanda,Ibunda,Ananda akan pergi ke kawah Gunung Bromo.Ananda hanya meminta restu dan doa kalian.Kirimlah hasil ladang ke Ananda dengan menceburkannya ke kawah Gunung Bromo pada setiap terang bulan,tanggal 14 bulan Kasadha.Ananda akan pergi ke kawah sekarang.”Tunggu Kusuma,kami akan ikut ke kawah dan mengajak semua penduduk mengantarmu ke kawah”ucap Joko Seger.Joko Seger lalu memanggil seluruh penduduk Tengger.Setelah itu,Joko Seger,keluarga,dan para penduduk Tengger beserta Jaya Kusuma pergi ke kawah Gunung Bromo.Setelah sampai,Jaya Kesuma menyampaikan pesan kepada rakyat Tengger “Aku akan menceburkan diri kedalam kawah demi ketentraman Rakyat Tengger disini.Kirimkanlah aku hasil ladang pada saat terang bulan,yaitu pada tanggal ke 14 bulan Kasadha.”ucap Jaya Kusuma.Setelah berucap seperti itu,ia menceburkan diri kedalam kawah Gunung Bromo.Tak ada rasa takut yang muncul dari wajahnya.”Jaya Kusuma….Anakku”seru ayahnya dari atas kawah.




Untuk mengenang peristiwa itu,para rakyat Tengger melakukan perintah yang pernah diucapkan Jaya Kusuma saat akan menceburkan diri kedalam kawah,yaitu mengirimkan hasil ladang pada tanggal ke 14 bulan Kasadha dengan menceburkannya kedalam kawah tempat Kusuma menceburkan diri.Hal ini terus dilakukan sampai sekarang dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat Tengger.Tradisi ini kemudian dinamakan Tradisi Kasadha.

CERITA RAKYAT { Ande-Ande Lumut }







Konon di desa Dadapan tinggallah seorang janda yang sangat miskin dan hina, dengan anak yang sangat tampan, gagah dan perkasa bernama Ande-Ande Lumut. Banyak sudah gadis yang melamarnya, tetapi tak satupun diterima. “Bagaimana dengan gadis-gadis yang mengharapkan engkau menjadi suaminya, Nak?” , Tanya Nyi Dadapan sambil bekerja kepada Ande-Ande Lumut. Ande-Ande Lumut diam sesaat dan berkata, “Saya belum berpikir tentang pernikahan, Bu?”. Karena mengerti anak angkatnya belum berhasrat untuk membicarakan tentang pernikahan, maka Nyi Dadapan berhenti membicarakan hal itu.



Tak jauh dari desa Dadapan terdapat sebuah desa yang bernama Karang Wulusan. Syahdan, desa itu terpisah oleh sebuah sungai yang cukup besar dari desa Dadapan. Di sana tinggallah seorang janda yang hidup berkecukupan bernama Nyi Menah. Ia mempunyai enam orang anak yang cantik-cantik bernama : Kleting Merah, Kleting Hijau, Kleting Biru, Kleting Ungu, Kleting Kelabu, Kleting Hitam. Pada suatu hari datanglah seorang gadis berpakaian kotor, gadis itu bernama Kleting Kuning. “Saya sangat lapar dan haus sudihkah nona memberi makan dan minum?”, pinta gadis itu. Keenam gadis itu mencemooh. Untunglah Nyi Menah segera mengajak gadis atu, memberinya makan dan minum serta ganti pakaian.



“Eh, Kleting Kuning, jemput bawaan ibu itu”, perintah Kleting Merah dengan nada kasar. Kleting Kuning segera menjemput Nyi Menah yang pulang dari pasar. Kleting Kuning seorang anak yang rajin, seadngkan keenam gadis anak Nyi Menah pemalas dan pekerjaannya hanya bersolek. “Di desa Dadapan ada seorang jejaka tampan yang menginginkan seorang istri, namanya Ande-Ande Lumut, nah kalian segera ke sana,” kata Nyi Menah kepada keenam anak gadisnya.



Keenam gadis itu segera berangkat. Mereka saling mendahului agar segera terpilih menjadi istri Ande-Ande Lumut. Tiballah mereka di pinggir sungai yang memisahkan desa Dadapan dan Karang Wulusan. “Bagaimana caranya kita menyeberang?” Keluh Kleting Biru. Tiba-tiba muncullah ketam raksasa bernama Yuyu Kangkang. Mau kemanakah kalian ini?”. Tanya YUyu Kangkang. Kami mau menyeberangi sungai ini, maukah kau menolong kami, “ pinta Kleting Merah. Kemudian Yuyu Kangkang mengajukan syarat. “Jika aku sudah menyeberangkan kalian, maka aku akan mencium kalian satu persatu”. Pada awalnya keenam gadis itu menolak, tapi itulah jalan stu-satunya untuk sampai ke seberang sungai. Dengan terpaksa mereka menyetujui permintaan. Setelah itu Yuyu Kangkang dengan cekatan menyeberangkan keenam Kleting itu.



Setelah sampai di seberang sungai. “Geli aku!, bau, teriak keenam Kleting itu setelah mereka diseberangkan Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak bias mengingkari janji. Yuyu Kangkang langsung mencium Kleting itu satu persatu. Dalam pikiran mereka yang penting segera bertemu dengan pria idaman yang tak lain adalah Ande-Ande Lumut.


Sesampainya di rumah Nyi Dadapan, keenam Kleting segera masuk dan memperkenalkan diri. “Sekarang kalian maju satu persatu, mulai dari Kleting yang paling tua”, kata Nyi Dadapan. Kleting Merah segera maju. Ia berjalan lenggak-lenggok berusaha menarik perhatian Ande-Ande Lumut. Sementara itu, Nyi Dadapan melantunkan lagu. “Anakku, si Ande-Ande Lumut temuilah ada gadis yang ingin melamarmu, si gadis nan cantik rupawan Kleting Merah yang jadi namanya”. Jawab Ande-Ande Lumut. “Duh ibu saya belum menerima rupa cantik bekas si Yuyu Kangkang. Kleting Merah sangat kecewa, begitupun Kleting lainnya.


Sementara itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya Kleting Kuning berangkat menyusul keenam Kleting. Tibalah ia di tepi sungai besar. “Hai gadis manis, tentu kau ingin menyeberang. Mari kutolong, tapi dengan syarat kau harus kucium”, kata Yuyu Kangkang dengan mantap. “Hep”, Kleting Kuning segera naik ke punggung Yuyu Kangkang. Ia duduk dengan baik. Dengan perlahan-lahan Yuyu Kangkang berenang menuju tepi sungai di seberang. “Krubyuk sengok, Krubyuk sengok, Krubyuk sengok”, begitulah irama Yuyu Kangkang berenang.



Setelah mereka tiba di seberang, Kleting Kuning segera membuka kotoran ayam yang dibungkus daun pisang. Lalu dioleskannya di kedua pipinya. Yuyu Kangkang kemudian menagih janji. “Sekarang aku tinggal menciummu gadis manis”. Kleting Kuning segera memasang pipinya yang diolesi kotoran ayam. “Tobat, bau, aku muak, aku tidak mau menciummu. Pergi!”, teriak Yuyu Kangkang sambil meninggalkan Kleting Kuning.



Kleting Kuning tiba di rumah Nyi Dadapan. “Dinda Candra Kirana, akhirnya kau kutemukan!”, kata Pangeran Inu Kertapati yang telah menyamar sebagai Ande-Ande Lumut. Kleting Kuning tergagap dan bingung, ketika menyadari dirinya dihampiri seorang Pangeran. Akhirnya dua sejoli, putra dan putrid raja itu bertemu kembali. Pada hari pernikahannya, mereka tidak lupa menjemput Nyi Dadapan, Nyi Menah dan keenam anak gadisnya. Akhirnya mereka hidup bahagia.